Mendengar dan Melihat Lebih
Mendengar dan Melihat
Lebih
Minggu
lalu aku main main ke Bandung, ada undangan temannya Bapak di daerah Buah Batu,
lalu sorenya mampir kesini, sekedar sholat dan cari jajanan! Ada yang tau
ini dimana? ehehe.
Sampai
waktunya Maghrib pun kita masih disini, aku yang sedang tidak bisa memenuhi
panggilanNya ambil shaft paling belakang, untuk sekedar duduk sambil melihat
adikku yang lama-kelamaan hilang sejajar dengan para pemenuh panggilanNya yang
lain. Baur-membaur dalam ketaatan, baur membaur dalam rapatan barisan yang
selalu diakhiri dengan salam.
Rencananya,
dalam duduk, aku ingin tidur ehehe, ngantuk loh berangkat jam 05.00 WIB dari
Bekasi, abis jajan pula! hehe.
Tapi rencana ku gagal, disebelahku ada seorang Ibu yang serius sekali menghapal ayat-ayat Mu, beliau agak sedikit kesusahan, entah karena matanya rabun atau alasan lain, tapi matanya selalu dipicingkan, dahinya dikerutkan, lalu beliau tatap atap kuat kuat, berusaha mengingat sambungannya.
Tapi rencana ku gagal, disebelahku ada seorang Ibu yang serius sekali menghapal ayat-ayat Mu, beliau agak sedikit kesusahan, entah karena matanya rabun atau alasan lain, tapi matanya selalu dipicingkan, dahinya dikerutkan, lalu beliau tatap atap kuat kuat, berusaha mengingat sambungannya.
Kutengok
sekali, dia masih berusaha.
Kutengok sekali lagi, dia ajak aku berbicara.
"Dari
mana Adek?" / "Dari Bekasi Bu, hehe. Ibu dari mana?" / "Ibu
dari Padang dek, Ibu dibawa orang kesini." / "Oh Ibu ikut pesantren
kilat disini Bu?" / "Iya dek, 40 hari dek, ngantuk ibu, padahal baru
3 hari kita disini." / "Wah, enak ya Bu?" / "Enak sih Dek,
tapi ini loh, disiplin sekali, Ibu harus setor ayat setiap hari, setor sampah
setiap hari, kamu tau kan Ibu udah tua" / "Heheh, masih cantik dan muda
kok Bu" / "Iya sih Dek, baru 47 umur Ibu, tapi grup ibu yang lain,
Ibu yang itu tuh, 73 umurnya dek. Ibu berlima kesini"
Singkat
cerita, dalam 3 rakaat yang didirikan, kami mengobrol panjang lebar.
Jadi, di Masjid yang ku kunjungi ini, selalu ada Pesantren Kilat saat liburan, lama waktunya aku tidak begitu paham, harga dan tingkat umurnya pun aku hanya tau sedikit, jadi takkan ku ulas ya.
Jadi, di Masjid yang ku kunjungi ini, selalu ada Pesantren Kilat saat liburan, lama waktunya aku tidak begitu paham, harga dan tingkat umurnya pun aku hanya tau sedikit, jadi takkan ku ulas ya.
Beliau
yang berangkat dari Padang dan dibawa orang itu benar adanya, Ibu ini
adalah seorang petani, membesarkan kedua anaknya seorang diri, suaminya sudah
lebih dulu pergi menemuiNya.
Di Desanya, ada seorang pemuda lulusan pesantren di Bandung ini, masih muda Ibu itu bilang, sekitar 28 tahun usianya, sudah punya anak juga tentunya, "Dia belum punya rumah, dia masih mengontrak." tutur beliau. Setiap tahunnya, pemuda itu selalu memberangkatkan lansia kesini, "ada pula yang diberangkatkan umrah dek!" sambung beliau. Setiap bulan ramadhan pun, pemuda ini selalu membuka lebar pintu rumah orang tua dan mertuanya, untuk menyiapkan makanan berbuka untuk siapa saja yang mampir dirumahnya.
Di Desanya, ada seorang pemuda lulusan pesantren di Bandung ini, masih muda Ibu itu bilang, sekitar 28 tahun usianya, sudah punya anak juga tentunya, "Dia belum punya rumah, dia masih mengontrak." tutur beliau. Setiap tahunnya, pemuda itu selalu memberangkatkan lansia kesini, "ada pula yang diberangkatkan umrah dek!" sambung beliau. Setiap bulan ramadhan pun, pemuda ini selalu membuka lebar pintu rumah orang tua dan mertuanya, untuk menyiapkan makanan berbuka untuk siapa saja yang mampir dirumahnya.
"Ibu pernah tanya dek sama dia, kenapa tak kau bangun
rumah mu dulu, kan kau masih ngontrak terus? lalu dia jawab dek, kubangun dulu
bu rumahku diakhirat, nanti yang dunia akan menyusul, nangis ibu dek"
Tak kalah, aku pun merinding.
"Dia itu dek, tak seperti orang punya, sederhana sekali orangnya, tapi MasyaAllah pasti pahalanya banyak betul, tau kau?" Ah makin merinding aku, orang baik itu ada, ada. Selalu ada.
Tak kalah, aku pun merinding.
"Dia itu dek, tak seperti orang punya, sederhana sekali orangnya, tapi MasyaAllah pasti pahalanya banyak betul, tau kau?" Ah makin merinding aku, orang baik itu ada, ada. Selalu ada.
Lalu dia
berpaling dan bertanya namaku, seraya bertanya IPku (haduu ampun buk). Sulung
Ibu itu perempuan juga, kulupa namanya, tapi seangkatan juga denganku, IP
anaknya adalah kebanggannya, dan sepertinya anaknya akan segera ikut pertukaran
pelajar ke China di semester depan, ah aku ikut senang. Selalu begitu, aku
bisa selalu senang padahal itu cerita kudengar dari orang yang baru kukenal,
belum memiliki apapun untuk dikenang.
Ibu yang
kuceritakan ini tak ada hubungan darah sama sekali dengan pemuda itu, hubungan
satu desa ada.
Mendengar
dan melihat lebih, selalu membuat hatiku berubah rasa, kadang sedih haru sedih
senang atau bahkan tanya dengan amarah menggelegar dalam kepala. Sadar, bahwa
memang selalu ada banyak rupa didunia ini, dan pengharapan untuk menjadi tenang
setelah kehidupan setelah ini adalah sebaik-baiknya harap dan usaha yang akan
terus kita lanjutkan sampai tiba waktunya. Dan pengharapanmu jangan sampai
tertuju pada yang lain, hanya kepada Allah lah kita berharap dan berserah.
Jangan khawatir dengan hari esok karena pasti sudah tertulis, tapi juga jangan lupa berusaha untuk hari esok karena selalu ada cara untuk mengubah yang tidak baik menjadi baik.



Komentar
Posting Komentar